Karama.id – Palu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mendeklarasikan Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta se-Sulawesi Tengah di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad), Senin (22/6/2026). Pembentukan konsorsium tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan kampus berdampak, khususnya dalam penanganan dan mitigasi bencana.
Menurut Fauzan, penanganan perubahan iklim dan kebencanaan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi antarkampus, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

“Oleh karena itu, dengan adanya konsorsium ini diharapkan akan terjadi mentoring alamiah. Nanti riset bersama, berkolaborasi, kemudian pengabdian masyarakat berkolaborasi sehingga dampaknya semakin besar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsorsium perguruan tinggi merupakan model kerja sama yang memungkinkan kampus berbagi sumber daya, fasilitas, dan keahlian untuk mencapai tujuan akademik maupun riset yang lebih besar tanpa menghilangkan kemandirian masing-masing institusi.
Menurut Fauzan, konsorsium memiliki tugas internal dan eksternal. Kampus besar diharapkan dapat menjadi penggerak dan membina perguruan tinggi yang lebih kecil melalui kolaborasi pembelajaran, riset, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Yang besar memberikan manfaat kepada yang kecil, dan yang kecil dapat belajar dari yang besar. Dengan begitu, kolaborasi riset dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal,” katanya.
Ia menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dalam memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Karena itu, dukungan pemerintah daerah serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan kampus yang benar-benar berdampak.
“Tujuan dari deklarasi konsorsium ini agar seluruh aktivitas perguruan tinggi memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Pemerintah juga harus mendukung kolaborasi yang dibangun PTN dan PTS di Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny Lamadjido, menyambut baik terbentuknya konsorsium tersebut. Menurutnya, kampus tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan kebencanaan dan pembangunan daerah.
“Saya mengapresiasi deklarasi konsorsium ini karena kampus harus bersatu. Perguruan tinggi tidak boleh berdiri sendiri-sendiri, termasuk dalam penanganan tanggap darurat bencana. Kampus yang besar harus mengayomi kampus yang lebih kecil sehingga semuanya bisa bersama-sama membantu pemerintah daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Untad, Prof. Dr. Eng. A. Rusdin, S.T., M.T., M.Sc., mengatakan kolaborasi antarkampus merupakan langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan multidimensi seperti perubahan iklim, banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Kondisi multidimensi tersebut tidak mungkin diselesaikan sendiri oleh Universitas Tadulako. Karena itu, diperlukan kolaborasi bersama perguruan tinggi lain, pemerintah, industri, dan dunia usaha di Sulawesi Tengah,” katanya.
Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta se-Sulawesi Tengah ditandai dengan pemukulan gong oleh Wamendiktisaintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., disaksikan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, unsur Forkopimda, serta pimpinan perguruan tinggi di Sulawesi Tengah.
Usai deklarasi, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang diikuti dosen dan mitra terkait sebagai bagian dari penguatan kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat dalam bidang iklim dan kebencanaan. *














